Sinode Gereja Isa Almasih

Categories
Cermin Nurani

Semua itu Ada Waktunya, Jangan Takut!

Semua itu Ada Waktunya, Jangan Takut!

Untuk segala sesuatu ada masanya, … (Pengkhotbah 3:1)
Oleh Dian Yuliani
Tuhan membuat segalanya lebih baik
TheHope.id – Aku mengingat nasehat dari rekan-rekan dalam team majalah di mana aku ikut ambil bagian; “Jangan sekali-kali memikul beban esok hari tapi beban hari ini cukuplah.” Ini kuingat dan menjadi hal yang baik dalam hidupku.

Dalam suatu kesempatan aku berdiskusi dengan temanku yang bercerita tentang generasi muda yang ditemui untuk dilayani. Ia membuka dengan masalah yang serius namun terabaikan. Masalah itu adalah waktu atau tepatnya kesempatan yang justru banyak disia-siakan.

Mereka, menurut temanku banyak yang menyia-nyiakan kesempatan yang baik. Malahan membuang kesempatan yang baik, apa itu berupa belajar, kerja keras atau membuat karya yang pantas. Sisi yang lain, ada yang di percaya bahwa jalan hidup itu tidak bisa berubah. Kalau saat ini sedang dalam pergulatan hidup yang sulit maka masa depan pasti suram. Mereka percaya tak ada yang bisa berubah.

“Ohhhh…Ehmmm…”, begitulah kata-kata yang sering kami berdua sisipkan dalam diskusi itu. Malahan ada gerak tubuh yang nampak dari diri kami berdua sebagai sikap untuk meyakinkan.
Aku termenung sejenak di kendaraan yang kutumpangi untuk pulang. Betapa sia-sianya jika hidup ini seperti berjalan tanpa ada perubahan. Ihhh…absurd. Cobalah kalian pikir, jika pengalaman belajar tanpa mengubah diri untuk bisa ke jenjang yang lebih baik atau kerja keras kalian hanya menghasilkan rasa lelah tanpa mengubah mental, karakter dan yang utama jenjang hidup ini, lalu apa artinya?

Bukankah telah banyak bermunculan kisah-kisah yang dianggap luar biasa dari orang- orang yang tadinya bukan di anggap bukan siapa-siapa?. Bukankah perubahan jalan hidup itu terjadi dari mereka yang percaya selalu ada harapan untuk bisa berubah?
Aku telah mengenal orang yang mengeluh soal hidupnya. Aku juga telah mendengar kalimat sinis dari mulut orang yang percaya bahwa jalan hidup itu tak ada hubungannya dengan Tuhan. Tuhan hanya mengurus soal iman atau percaya bukan soal hidup ini. Benarkah?

Aku kembali belajar dari hasil resensi yang di tulis teman dalam team redaksi, tentang buku yang ditulis oleh David Roper berjudul Seeing Through, mengenai hidup nabi Elia. Dia menempatkan kalimat yang menyatakan; dalam masa-masa yang sulit justru menjadi waktu-waktu yang terbaik bagi Tuhan untuk bertindak. Waktu yang mustahil justru menjadi waktu yang baik bagi Tuhan untuk menyatakan mujizatnya.

Waktu tergelap dalam hidup justru menjadi awal untuk Tuhan menyatakan terang pengharapannya. Singkatnya tidak ada waktu yang terlalu sulit bagi Tuhan dan tidak ada waktu yang terlambat bagi Dia. Dengan demikian jalan hidup atau segala yang sudah tidak mungkin di hidup orang percaya ada masa di mana Tuhan bisa mengubah untuk kemulian nama-Nya.

Dorothy Sayer adalah contoh, dalam buku yang ditulisnya berjudul The Mind of the Maker. Dorothy menulis, “Tuhan tidak berjanji memecahkan semua masalah kita, sekurang-kurangnya tidak dengan cara pemecahan yang kita inginkan. Namun sebagai gantinya, Tuhan memanggil kita untuk mempercayai-Nya dan untuk taat – entah kita hidup dalam kelimpahan dan keberhasilan, atau apakah kita, seperti beberapa orang Kristen, yang menghabiskan hari-hari kita dalam camp konsentrasi. Bagi Tuhan, yang terpenting adalah apa yang kita ciptakan dari bahan mentah itu”.

Apa yang dimaksud dengan bahan mentah itu? Aku telusuri lagi nasib hidup Dorothy Sayer, rupanya ia menulis buku sesuai dengan keberadaan hidupnya. Memiliki otak yang genius dan memperoleh bea siwa di Oxford namun sebagai wanita, ia hanya memiliki wajah pas-pasan saja. Saat ia jatuh cinta kepada pemuda tampan pujaannya, cintanya terabaikan. Ia berpaling untuk mencintai pemuda dengan pekerjaan montir yang hidupnya hanya bermabuk-mabukan, rokok dan bejad. Dorothy hanya sebagai alat pelampiasan saja. Walaupun ia mau berkencan dengan Dorothy namun hal itu tidak membawanya ke jenjang pernikahan. Padahal dari hubungannya, Dorothy melahirkan seorang anak.

Dorothy telah ambruk . Hidupnya banyak hal yang pahit. Kemudian Dorothy nekad memilih menikah dengan duda cerai yang lebih tua darinya dengan pemikiran akan dicintai. Namun hal inipun Dorothy gagal. Sampai semua bahan mentah hidup itu mendorongnya kepada Tuhan. Pengalaman hidup dengan Tuhan rupanya ia mengalami damai dengan masa lalunya yang pahit dan masa lalu yang pahit menjadi bahan baku di tangan-Nya.
Tuhan membuat bahan baku hidup yang berantakan menjadi bahan pembuat hidup bagi kemululian nama-Nya. Dorothy Sayers menulis buku-buku yang banyak menjadi berkat dan menolong orang yang setidaknya bernasib seperti dirinya.

Tuhan bisa membuat hal dalam hidup kita yang tidak bisa dibuat oleh manusia manapun.-dy

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Teropong

J. I. Packer (1926-2020)

J. I. Packer (1926-2020)

Suatu tulisan sepintas tentang contoh hidup seorang hamba Tuhan

TheHope.id – J.I Packer pergi untuk bersama dengan Tuhan pada 17 Juli 2020. Dia berusia 93 tahun. Packer adalah seorang anggota gereja Anglikan seumur hidup yang menghabiskan paruh pertama hidupnya di Inggris dan paruh kedua di Kanada tetapi yang mungkin paling populer di Amerika Serikat. Ia dikenal luas sebagai salah satu tokoh terkenal teologis yang paling berpengaruh di abad ke-20.

Lahir dari keluarga menengah ke bawah
Packer mengaku terlahir dari keluarga kelas menengah ke bawah. Keluarga itu tinggal di bagian tengah Gloucester, sebuah kota katedral di barat daya Inggris. Kecenderungan religius di rumah dan gerejanya adalah Anglikanisme nominal daripada kepercayaan evangelis dalam Kristus sebagai Juru Selamat (sesuatu yang tidak diajarkan kepada Packer di gereja asalnya). Orang tua Packer menjelaskan bahwa pendidikan lanjutan apa pun akan bergantung pada beasiswa. Packer menerima beasiswa yang memungkinkannya menempuh pendidikan di Universitas Oxford.

Packer masuk Oxford University, dia menganggap dirinya sebagai seorang Kristen karena dia telah membela agama Kristen dalam debat intelektual di sekolah. Saat menghadiri kebaktian penginjilan yang disponsori oleh kelompok kampus InterVarsity pada 22 Oktober 1944, dia menyadari bahwa dia bukanlah seorang Kristen sejati. Dengan anugerah Allah, dia pulang dari kebaktian sebagai orang Kristen yang percaya dan diselamatkan.

Dia terus menggumuli kecenderungan pertama ialah pikiran orang Kristen telah disesuaikan dengan roh kehidupan modern. Roh yang menyebarluaskan pemikiran-pemikiran besar manusia, tetapi hanya sedikit ruang untuk memikirkan Allah. Cara orang modern menempatkan Allah, jika tidak menyangkal Allah sama sekali adalah dengan menjaga jarak dengan-Nya. Ironisnya banyak orang Kristen modern, melakukan praktek religious dan membiarkan Allah berada jauh dari mereka. Jerat lain yang tak kalah mematikan abad modern ini adalah orang Kristen terjerat dan terbelenggu skeptisme modern. Mulai menyangkal control Allah atas dunia ini bersifat langsung dan sempurna. Undangan yang paling tepat dan terbaik untuk orang Kristen saat ini, Kembali ke jalan Tuhan seperti yang diungkapkan Tuhan dalam Yermia 6:16 ;”Beginilah firman TUHAN: ”Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. Tetapi mereka berkata: Kami tidak mau menempuhnya.”

Pada 17 Juli 1954, Packer menikahi seorang wanita Welsh, Kit Mullett, seorang perawat muda yang dia temui setelah ceramah di Surrey pada akhir musim semi tahun 1952. Bersama-sama mereka kemudian mengadopsi tiga anak: Ruth, Naomi, dan Martin. Keluarga Packer pindah ke Bristol pada tahun 1955, di mana Packer bertugas sebagai dosen di Tyndale Hall selama enam tahun ke depan.

Memberi penekanan pentingnya dasar hidup Kristen yang benar dan saleh
Selama hampir 70 tahun menulis dan melayani, ia menekankan pentingnya mengenal, berdoa, dan berkomunikasi dengan Allah Tritunggal. Dia menyerukan agar gereja menganggap serius kekudusan dan pertobatan dengan berjalan dalam Roh dan berjuang melawan dosa yang ada di dalam diri. Dia membela otoritas Alkitab dan memperjuangkan prinsip katekisasi pemuridan. Orang-orang yang mengenal Allah menunjukkan keberanian yang besar bagi Allah. Daniel dan teman-temannya adalah orang-orang yang teguh pendiriannya. Ini bukanlah kekerasan hati yang bebal. Mereka tahu apa yang sedang mereka lakukan. Mereka telah menghitung harga yang harus dibayar. Mereka telah mengukur resikonya. Mereka menyadari apa akibat tindakan mereka, kecuali jika Allah turut campur tangan, dan memang itulah yang Ia lakukan.

Orang-orang yang mengenal Allah memiliki kepuasan yang besar dalam Allah. Kepuasan kita yang komprehensif merupakan ukuran lain untuk menilai apakah kita sungguh-sungguh mengenal Allah. Jadi, Mengenal Allah merupakan hubungan emosional, intelektual dan kehendak. Dan ini didasari oleh kasih karunia. Jadi, mengenal Allah; Allahlah yang pertama kali mengenal orang percaya dan memampukan Dia dengan menyatakan kasihnya kepada orang percaya.

Pengenalan orang percaya kepadanya Allah, berdasarkan kebenaran ini yang di aplikasikan ke dalam fakta pribadi adalah fakta yang lebih besar yang mendasar yaitu fakta bahwa Ia mengenal saya. Saya diukir dalam telapak tangan-Nya. Saya tidak pernah keluar dari pikiran-Nya. Seluruh pengetahuan saya akan Dia tergantung pada inisiatif-Nya secara terus menerus dalam mengenal saya. Saya mengenal Dia karena Dia mengenal saya dan terus menerus mengenal saya. Ia , seorang mengenal saya sebagai seorang sahabat yang mengasihi saya; dan tidak sesaat pun mata-Nya dan perhatian-Nya terlepas dari saya, dan karena itu pemeliharaan-Nya tidak pernah terputus sesaatpun.

Pengetahuan ini merupakan pengetahuan yang sangat penting. Ada penghiburan yang tidak terkatakan – yaitu penghiburan yang menghasilkan energi, dapat dikatakan demikian, bukannya melemahkan – dalam kesadaran bahwa Allah terus-menerus mengenal saya dalam kasih, dan mengawasi saya demi kebaikan saya. Namun ada doronngan yang sama besarnya untuk menyembah dan mengasihi Allah karena menyedari bahwa karena alasan yang tidak dapat dimengerti, Ia menghendaki saya menjadi sahabat-Nya. Ia ingin menjadi sahabat saya dan Ia telah memberikan Anak-Nya untuk mati bagi saya agar saya menyadari rencana-Nya itu.
Kasih Allah
Bagi JI Packer, I Yohanes 4:8,16, merupakan salah satu ucapan yang paling indah dalam Alkitab. Tetapi juga merupakan salah satu ucapan yang paling sering disalah pahami. Packer menulis dalam kalimat yang mengawali frasa “Allah adalah kasih” dan yang kedua, “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita”(ayt.16). Mengenal kasih Allah sesungguhnya sorga turun di bumi. Dan, Perjanjian Baru mengemukakan pengetahuan ini, bukan hanya sebagai hak beberapa orang yang disukai saja, melainkan sebagai normal dari pengalaman Kristen sehari-hari.

Ketika Paulus berkata, “Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”( Roma 5:5), yang ia maksudkan bukanlah kasih kepada Allah, seperti yang dipikirkan Agustinus, melainkan pengetahuan tentang kasih Allah kepada kita. Meskipun ia tidak pernah bertemu dengan orang Kristen di Roma yang ia kirimi surat, ia merasa yakin bahwa pernyataan akan berlaku untuk mereka seperti halnya untuk dia.

Jadi, kasih Allah yang dicurahkan berarti “dituangkan atau ditumpahkan”. Kata ini yang sama yang dipakai sama untuk “pencurahan” Roh Kudus dalam Kisa Rasul 2:17, yang menunjukkan aliran yang deras dalam jumlah yang besar atau banjir. Jadi kasih Allah telah membanjiri hati kita terdalam.

Kata kerja dalam bentuk perfect yang menyiratkan kondisi yang sudah mapan setelah Tindakan tertentu selesai dilakukan. Maksudnya, pengetahuan akan kasih Allah yang telah membanjiri hati kita, sekarang memenuhinya dan sekarang masih memenuhinya.

Pelayan regular Roh Kudus kepada orang-orang yang menerima Dia – bagi semua orang yaitu orang yang dilahirkan baru, semua orang yang merupakan orang percaya sejati. Kita seharusnya dapat mengharapkan bahwa aspek peyanan-Nya dihargai lebih tinggi dari pada saat ini.
Masa yang tidak mudah
Sebagai hamba yang bertekun dan intelektual, ia tahu persis pergumulan pergumulan orang percaya, terutama hal doktrin, Ada esai ulasan yang berjudul “‘Keswick’ and Reformed Doctrine of Sanctification (Doktrin Keswick dan Doktrin Reformed tentang Pengudusan – Red) (Evangelical Quarterly 27 [1955]: 153 -157), menuduh ajaran Kehidupan Lebih Tinggi tentang pengudusan ini sebagai Pelagianisme (paham yang meyakini bahwa dosa asal tidak merusak hakikat manusia, dan bahwa dengan kehendaknya yang fana manusia masih sanggup memilih yang baik atau yang buruk tanpa pertolongan ilahi – Red.) yang menyeluruh. Ini adalah masa Packer yang paling polemik, sebagian karena pengalaman pribadinya dan hati pastoralnya bagi orang lain untuk menghindari “kecerobohan pietistik” yang hampir membuatnya putus asa sebagai mahasiswa. Dia kemudian menulis:
“Tidak banyak rekomendasi ketika yang dapat Anda katakan adalah bahwa ajaran ini dapat membantu Anda jika Anda tidak menganggap perinciannya terlalu serius. Sangatlah memberatkan untuk mengatakan, seperti dalam kasus ini saya pikir kita harus, bahwa jika Anda benar-benar memerhatikan perinciannya, itu akan cenderung tidak membantu Anda tetapi malah menghancurkan Anda.”

Penulis biografinya, Alister McGrath, melihat kembali efek dari artikel ini dan menulis: ”Di sana…tidak ada tanggapan dari kelompok Keswick yang menolak kritik yang diberikan oleh Packer. Secara luas disepakati bahwa tinjauan Packer menandai berakhirnya dominasi pendekatan Keswick di kalangan kaum Injili yang lebih muda. Sebagian besar kritik teologis dari kritik Packer terbukti tidak dapat dijawab.”

Pada bulan Maret 1958, pada usia 31, Packer menerbitkan buku pertamanya, “Fundamentalism” and the Word of God (“Fundamentalisme” dan Firman Allah -Red.) (IVP di Inggris; Eerdmans di AS), sebuah pembelaan dari sikap Protestan bersejarah mengenai otoritas Kitab Suci.
Michael Reeves menulis:
“Ini berfungsi sebagai seruan untuk meningkatkan semangat para kaum Injili dengan pandangan yang tinggi tentang Alkitab, itu menaikkan tingkat kecanggihan dan nuansa yang dapat mereka pikirkan tentang Kitab Suci, dan itu menjadikan Packer sebagai pemimpin teologis dari gerakan itu.”

Tetap setia menjadi hamba

Buku pertama Packer terjual sebanyak 20.000 eksemplar pada tahun pertamanya dan terus dicetak sejak saat itu. Sebuah ceramah yang diberikan Packer kepada sebuah kelompok pelajar di London pada tahun 1957 menarik perhatian editor InterVarsity, yang meminta agar Packer mengubah ceramah tersebut menjadi sebuah buletin. Sebagai gantinya, Packer mengerjakan materi itu selama delapan belas bulan dan menyerahkan manuskrip sepanjang buku kepada editor. Buku itu berjudul “Fundamentalism and the Word of God” (Fundamentalisme dan Firman Allah – Red.).

Packer menghasilkan begitu banyak sehingga tidak mungkin menyusun bibliografi dari tulisannya. Baik dalam berbicara maupun menulis, Packer mengikuti kebijakan memasuki hampir setiap pintu yang terus terbuka di hadapannya. Daftar publikasinya menentang tabulasi, sebagian karena banyaknya jumlah item, sebagian karena kisaran genre yang begitu luas sehingga sulit untuk mengetahui apa yang merupakan publikasi dibandingkan dengan dokumen yang dicetak secara pribadi, sebagian karena Packer sering menerbitkan buku yang sama di Amerika Serikat dan Inggris dengan judul yang berbeda, dan sebagian karena banyak dari tulisannya telah diterbitkan ulang, terkadang dengan judul baru.

Sumber: “The Gospel Coalition” Judul asli artikel :J.I. Packer (1926 — 2020) penulis: Justin Taylor , https://www.thegospelcoalition.org/blogs/justin-taylor/j-i-packer-1926-2020/

Baca juga artikel lainnya
Categories
Kilas Berita

Leadership di Lingkup Sinode GIA

WAWANCARA EKSLUSIF

Leadership di Lingkup Sinode GIA

Wawancara Eksklusif Ketua Umum Sinode Gereja Isa Almasih, Pdt. Dr. Goenawan Susanto M.Th.
(Periode 2016-2020 dan penambahan masa jabatan 2020-2022, karena masa Covid-19)
Oleh Agus Santoso & Thomas Esha
“Pemimpin ke depan, sebaiknya melanjutkan saja apa yang sudah dikerjakan diperiode ini walaupun di tengah tengah kesulitan dan tantangan tetap bertahan dan jangan merasa kecil hati, terus melaksanakan tugas dan pelayanan, serta melakukan pendekatan pendekatan ke gereja gereja lokal supaya mereka lebih mendukung Sinode, terus sabar dan bertahan”.
Pdt. Dr. Goenawan Susanto, M.Th
Ketum MPH Sinode GIA 2015-2020 + 2021-2022

SEMARANG, TheHope.id – Waktu menunjukkan pukul 20.20 wib, Kamis, 7 Juli 2022, saat usai doa malam di GereJa Isa Almasih Jemaat dr. Cipto Semarang baru selesai. Kami dari team redaksi majalah elektronik The Hope Sinode GIA mengikuti langkah Pdt. Goenawan Susanto sebagai Ketua Umum Sinode Gereja Isa Almasih sekaligus juga sebagai Gembala Jemaat Gereja Isa Almasih Jemaat dr. Cipto Semarang. Kami diterima di salah satu ruangan dalam gereja untuk melakukan wawancara khusus. Malam itu masih terdengar suara perbincangan beberapa jemaat yang baru saja selesai mengikuti ibadah doa malam. Suara itu semakin lama semakin terdengar lamat-lamat karena mereka menuju tempat parkir untuk meninggalkan gereja pulang ke rumah masing-masing. Suasana doa yang masih terasa masuk menyelimuti pertemuan kami. Ruangan pertemuan untuk wawancara itu seperti tidak menjadi kaku, meskipun suasananya sepi. Gaya ‘semarangan’ mulai terasa saat Pdt. Goenawan Susanto menempati tempat duduk santai dan rileks.

Team redaksi majalah elektronik The Hope Sinode GIA, mulai mewawancarai Pdt. Goenawan Susanto menjelang akhir masa tugas jabatannya sebagai ketua Sinode Gereja Isa Almasih dalam Sidang Sinode ke 23 tanggal 26-28 Juli di Gereja Isa Almasih Jemaat Pegangsaan Jakarta. Topik yang kami angkat adalah “LEADERSHIP DI LINGKUP SINODE GEREJA ISA ALMASIH”. Sinode Gereja Isa Almasih adalah salah satu Lembaga Gereja yang besar yang berada di Indonesia dengan 156 jemaat lokal dewasa dan sudah berusia lebih dari tiga perempat abad. Saat ini memiliki jemaat lokal dewasa yang tersebar di dalam negeri dan di luar negeri. Kita tahu peran seorang pemimpin sangat menentukan perjalanan suatu sinode yang dipimpinnya.

Menurut bapak, apa kerinduan mengenai pemimpin yang akan datang secara khusus visi dan misinya bagi Gereja Isa Almasih?

Pdt. Goenawan Susanto selanjutnya redaksi menyingkat PGS untuk keperluan peredaksian sebagai Ketua Umum Sinode Gereja Isa Almasih yang menjabat selama 4 tahun ditambah perpanjangan selama 2 tahun akibat pandemic virus Covid 19.
Kepemimpinan di lingkup Gereja Isa Almasih itu bersifat jamak, artinya kepemimpinan satu team, tidak satu orang oleh sebab itu sebaiknya pemimpin yang akan datang itu mempunyai kesatuan. Khususnya Ketua Umum dan Sekretaris Umum harus orang yang satu visi, satu hati, punya chemistry yang sama, kalau sampai tidak cocok sungguh akan sangat merepotkan sekali. Sebaiknya dalam pemilihan Ketua Umum dan Sekretaris Umum harus menjadi satu paket sama seperti pemilihan Presiden dan Wakil Presiden jangan di pilih sendiri-sendiri.

Dalam lingkup Sinode Gereja Isa Almasih selama ini Ketua Umum dan Sekretaris Umum terjadi pemilihan sendiri-sendiri, sehingga Ketua Umum belum tentu akan cocok dengan Sekretaris umumnya, meskipun kalau sudah terpilih harus berusaha untuk bisa cocok dan sejalan. Tetapi lebih baiknya dari awal pemilihan sudah menjadi satu paket antara Ketua Umum dan Sekretaris Umum sehingga bisa lebih mudah untuk sejalan dan bekerja sama. Kemudian ketua-ketua departemen yang lainnya harus mengikuti kebijkan ketua umum dan sekretaris umum. Jangan membuat kebijakan sendiri serta berjalan sendiri-sendiri, karena mereka dipilih oleh Ketua Umum dan Sekretaris Umum. Mereka harus mengikuti arahan dari Ketua umum dan Sekretaris umum. Itulah yang sama alami selama menjabat sebagai Ketua Umum selama ini, ujar bapak PGS yang memiliki dua orang putri.

Praktisnya bagaimana?
PGS hening sejenak. Bapak PGS yang berkacamata plus dan gemar membaca buku ini melanjutkan pembicaraannya sambil sekali-kali membetulkan letak kaca matanya.

Selanjutnya dalam konteks saat ini, masalah yang menghadang atau menjadi tantangan terbesar adalah pemimpin gereja Lokal yang merasa memiliki otonomitas besar maunya berjalan sendiri-sendiri, kurang mengikuti arahan Majelis Pusat Harian Sinode Gereja Isa Almasih. Juga ada kepentingan-kepentingan pribadi yang kadang lebih menonjol dari pada kepentingan bersama, sehingga sering kali muncul konflik-konflik di gereja lokal. Konflik antara Gembala Jemaat dengan Majelis atau dengan jemaatnya. Tidak jarang konflik ini bisa memicu perpecahan Gereja atau eksedus ke Gereja yang lain. Bahkan membuat Gereja tandingan. Kemudian kesulitan lainnya adalah masalah ketaatan dalam memberi persepuluhan dari Gereja Lokal kepada Sinode Gereja Isa Almasih. Tidak semua Gereja Lokal taat dalam memberi persepuluhan. Demikian pula apabila ada tenaga aktivisnya diminta untuk melayani di tingkat Sinodal. Mereka cenderung memiliki keberatan dan menutup diri terhadap hal ini.
Bagaimana seharusnya pemimpin Sinode ke depan itu?
Pemimpin ke depan sebaiknya melanjutkan saja apa yang sudah dikerjakan diperiode ini walaupun di tengah-tengah kesulitan dan tantangan tetap bertahan dan jangan merasa kecil hati, terus melaksanakan tugas dan pelayanan, serta melakukan pendekatan-pendekatan ke gereja-gereja lokal supaya mereka lebih mendukung Sinode, terus sabra dan bertahan.
Dalam dunia yang serba tsunami informasi tentu bukan hal mudah, kecil dan sederhana. Ketermasing-masingan atau polarisasi dalam pengajaran, masalah pengajaran, masalah pembinaan generasi muda dan masalah visi Isa Almasih di masing masing gereja menjadi tantangan, adakah yang menjadi pandangan bapak untuk diharapkan bagi pemimpin kedepan itu?
PGS, memang di dunia sekarang ini banyak orang bisa mengikuti pengajaran-pengajaran yang sangat mudah diperoleh melalui medsos, youtube dan lain-lain. Pengajaran-pengajaran tersebut tidak bisa dihindari, tetapi Sinode Gereja Isa Almasih harus memiliki ciri khas dan mempertahankan pengajaran serta pengakuan imannya. Majelis Harian Pusat Sinode Gereja Isa Almasih ke depan harus memperkuat bidang pengajaran atau teologia sehingga ke khasan teologia Gereja Isa Almasih bisa terlihat jelas. Sarana media komunikasi juga penting, seperti majalah sinode, misalnya. Sinode GIA harus memiliki chanel youtube tersendiri yang selalu update, sehingga bisa memberikan ajaran-ajaran atau teologia Gereja Isa Almasih. Saat ini kita masih lemah dalam hal ini tertinggal dari sinode Gereja yang lainnya.
Menurut bapak bagaimana dengan Sidang Sinode ke 23 yang akan datang di Jakarta nanti?

Sebagai pendeta juga Sarjana Psikologi ini mengatakan, bahwa Sidang Sinode ke 23 sangat penting untuk memperkuat persatuan secara organisasi. Sidang Sinode yang dilakukan selama 4 tahun sekali ini paling tidak akan menentukan masa depan Gereja Isa Almasih lewat keputusan-keputusan bersama dalam sidang. Sayangnya karena masih suasana pandemi covid, maka jumlah pesertanya sangat dibatasi, maksimal dua peserta buat setiap gereja lokal dan waktunya juga diperpendek hanya 3 hari saja. Sayang sekali masih banyak juga gereja lokal yang tidak bisa hadir untuk mengutus wakilnya.

Apa yang harus dipegang oleh masing-masing Gereja Isa Almasih saat ini?

Sambil membetulkan letak duduknya, melanjutkan bahwa pengakuan iman Gereja Isa Almasih dan komitmen untuk mendukung Sinode harus kembali diingatkan kepada masing-masing gereja lokal dalam lingkup Sinode Gereja Isa Alamsih. Hal ini sesuai dengan hasil kesepatan kita bersama dalam bersinode.

Apakah dukungan gereja lokal kepada Sinode karena kurangnya komitmen atau karena tidak ada dana yang disediakan sehingga mempengaruhi ketaatan mereka?

Kata bapak PGS, pertama masalah komitmen yang kurang. Juga karena ada sakit hati dimasa lalu. Misalnya, ada pemimpin Gereja Lokal yang merasakan sakit hati, terus menutup diri terhadap kepemimpinan sinode yang ada. Hal ini menunjukkan pemimpin yang tidak dewasa kalau hal seperti itu dibiarkan terjadi, masalalu biarlah berlalu, kita saat ini harus melihat kie depan karena ini pekerjaan Allah bukan perasaan pribadi. Pemimpin tidak boleh mengikuti perasaan sendiri. Komitmen sebagai bagian dari Sinode, tentu harus mendukung sinode.

Sebagai Ketua Sinode yang harus meletakan jabatannya, apa rencana bapak dan bagi Gereja Isa Almasih dr. Cipto Semarang?
Dalam candaan yang halus, penulis mengatakan kemungkinan bapak Goen, panggilan akrab sehari-harinya dari beliau, bisa jadi dapat terpilih kembali sebagai ketua sinode.

PGS berujar sambil tertawa dengan ciri khasnya menjawab candaan tersebut, tetap rendah hati meskipun menjadi ketua sinode adalah merupakan orang tertinggi dalam lingkup Gereja Isa Almasih. Begitulah beliau menanggapi candaan dengan hanya senyuman.Kita hanya mereka-reka arti senyuman itu yang ada di bibir pria yang memang selalu nampak low profile.

Banyak hal yang masih menjadi pekerjaan rumah di Gereja Isa Almasih dr. Cipto yang belum diselesaikan, ujar suami dari Ibu Evi ini, seorang wanita yang sudah sekian puluh tahun setia mendampingi. Pekerjaan rumah yang harus dikerjakan seperti program pemuridan yang belum berjalan dengan baik. Banyak hal yang harus dibenahi pada gereja ini. Saya harus konsentrasi, gantian orang lain yang harus memimpin Sinode Gereja Isa Almasih, ujarnya.
Dalam Sidang Sinode di Pontianak 6 tahun lalu, ada agenda yang disusun, berapa persenkah dari agenda tersebut yang berhasil dilaksanakan?
PGS, berujar agak sulit dibuat prosentase karena ada agenda yang merupakan proses, seperti menyatukan Gereja-Gereja Lokal. Yang penting agenda tersebut sudah dikerjakan semaksimal mungkin. Disamping itu juga kita tidak mempunyai pejabat sinode yang fulltime. Sehingga sulit untuk diharapkan keberhasilan utuh dalam melaksanakan agenda yang sudah disusun.Demikian ucapan beliau, mengakhiri wawancara.

Malam telah berlari membuat gelapnya suasana di luar Gereja mulai dirasakan. Kami berdoa Bersama dan saling bersalaman untuk berpamitan. Kami melangkahkan kaki keluar ruangan Gereja yang mulai sepi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.45 wib. Kami jadi teringat kepada kata-kata Neale Donald Walsch, “Pemimpin sejati bukan orang yang mempunyai banyak pengikut, tetapi yang menciptakan banyak pemimpin.” Kiranya menjadi penyemangat dalam suasana sidang sinode ke 23 yang akan berlangsung di akhir juli nanti di Jakarta. (-as/te)

Baca juga artikel lainnya
Categories
Opini

Keteguhan Hati & Tindakan sebagai Hamba Tuhan

Keteguhan Hati & Tindakan sebagai Hamba Tuhan

“Masalah utama dari zaman kita bukan liberalisme atau modernisme, atau Katolik Roma yang lama atau Katolik Roma baru, maupun ancaman komunisme, atau bahkan ancaman rasionalisme dan konsensus monolitik yang mengelilingi kita. Semua ini berbahaya tapi tidak ancaman utama. Masalah sebenarnya adalah ini: Gereja Tuhan Yesus Kristus, secara individu, secara Bersama-sama, cenderung untuk melakukan pekerjaan Tuhan dengan alam kekuatan daging bukannya dengan (kuasaq) Roh. Masalah sentral selalu di tengah-tengah umat Allah, tidak dalam keadaan di sekitar mereka”.
Francis Schaeffer

OLEH YONATHAN SUBUR / Juli 2022

Terlempar di dunia yang menjerit
Dalam mini seri film perang dunia dua yang diambil dari kisah nyata pengalaman-pengalaman para prajurid, berjudul “Only Few Second” (2016), digambarkan manusia yang berperang itu, sebenarnya sosok manusia yang rapuh; mengalami takut, ingat pada orang yang dikasihi, bersembunyi di balik senjata. Dan sisi lain ada rasa kemanusiaan di balut rasa berani karena tujuan berperang yang lain. Semua historitas perang menjadi mimpi buruk dan akan menjadi pelajaran berharga bagi manusia.

Namun kini dunia menjerit kembali oleh perang yang disebabkan oleh manusia. Perang di wilayah negara Ukrania yang sebenarnya yang ikut berperang Uni Eropa dan Amerika lawan Rusia dan kroninya. Perang kembali membuat manusia menjerit. Pedih, suram dan nyaris pasrah. Dunia menjadi krisis. Itulah kata-kata yang sering muncul sekelibat di media masa cetak dan elektronik maupun media informasi digital, dalam mengetengahkan situasi saat ini. Gereja terlempar di dunia yang menjerit seperti saat ini.

Perang menjadikan krisis pangan dan energi, negara Srilangka dinyatakan bangkrut dan terjadi krisis dengan demo besar rakyatnya. Harga-harga bahan pangan meroket. Di belahan lain, orang antri minyak, sampai ada yang pasrah saat belanja di pasar harga cabe sudah naik. Dan ditambah lagi kebangkitan covid 19 dengan berbagai varian muncul, dan itu ada di mana-mana. Sementara sisi lain, di dunia maya dibarengi dengan tehnologi informasi, yang menggelontorkan berbagai informasi yang menjanjikan cerdas, apakah itu berupa informasi “kebenaran” yang bisa dipilih untuk dikonsumsi, semua ada digenggaman tangan; handphone.

Paradoks, inkonsistensi, atau polaritas pada dasarnya untuk menggambarkan situasi yang yang bertentangan sesuatu yang acap kali disebut sebagai ironi. Itulah situasi dunia saat ini.

Keteguhan hati
Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. 2 Kor 4:1

Paulus membentangkan isi hatinya dengan menuliskan yang mendasar dari motiv yang utama dalam melayani orang-orang yang telah percaya di Korintus, “Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini”. Motivasi yang mendasar dari Paulus diragukan oleh para pengajar palsu. Seperti halnya di saat ini, dalam era postmodern, manusia sangat individulis, percaya diri dan mempertanyakan segala sesuatu, karena ia kurang percaya pada apapun. Dari situasi yang demikian muncul aksi berbagai hal salah satunya orang Kristen tanpa gereja. Mengapa? Salah satunya penyebab krisis saat ini justru gereja Ortodoks Rusia berusia 75 tahun mendukung perang serangan ke Ukraina, menyebutnya perang spiritual, bukan menjadi pembawa suara damai.

Natalie Golderg (2015) mengajak menikmati microbreak dalam merenungkan tulisan Paulus. Membiarkan diri dengan hati yang lapang, pikiran yang jernih untuk bisa melihat bahwa Paulus yang menulis “Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati itu” telah terangkai dengan pengalaman hidupnya yang berat (2 Kor 1: 8) yang menyatu dengan nasehatnya yang saling berkaitan. Namun, Paulus tidak tawar hati atau putus asa (4:11). Apa rahasianya? Paulus meyakini bahwa Tuhan kelak akan mengganjar kesetiaannya dalam pelayanan dengan kemuliaan yang kekal (4:5, Why 3:10b).

Paulus sampai mengatakan bahwa penderitaannya yang sangat berat jadi terasa ringan karena dibandingkan dengan kemuliaan yang begitu megah dan indah dari Tuhan baginya kelak (ay. 17).Perkataan “ilah zaman ini” menunjuk kepada Iblis (bd. Yoh 12:31; Yoh 14:30; 16:11; Ef 2:2; 1Yoh 5:19) yang memegang kuasa atas banyak kegiatan pada zaman sekarang ini. Akan tetapi, pemerintahannya itu bersifat sementara dan bersyarat. Dia melangsungkan pemerintahannya hanya dengan kehendak Allah yang mengizinkan sampai akhir sejarah (Wahy 19:11-20:10). Mereka yang tidak tunduk kepada Yesus Kristus, tetap berada di bawah kekuasaan Iblis. Karena keyakinan yang teguh, Paulus menyadari panggilan dan bisa pelaksanaanya semata-mata hanya oleh Roh dan bukan karena diri sendiri (2 Kor 1:9).

Namun bagaimana dengan mengkomunikasikan sehingga orang percaya mengerti dan memahaminya bahwa situasi yang terjadi saat ini membutuhkan pengertian yang dalam bahwa situasi yang pelik dan temporer itu, selalu membutuhkan Roh Kudus terus menerus bukan hanya untuk dimengerti melalui firman-Nya tapi juga percaya kehadirannya. Seperti ditegaskan oleh Francis A Schaeffer (1995:169) ; “The answers in the realm of the intellect should make us overwhelm-ingly excited. But more than this we are returned to a personal relationship with the God who is there”. Jadi, sebagai mana Roh Kudus meneguhkan Paulus, Ia juga hadir meneguhkan orang percaya di segala zaman dan berbagai situasinya. Sehingga orang percaya bisa melihat terang telah terbit. (4:6)

Pelaksanaan seorang hamba
Dari motif yang terdalam munculah tindakan yang nampak dan disaksikan dalam tulisannya Paulus, bahwa dalam situasi yang sulit dan temporer itu, konsistensi Paulus dalam ketulusan, kemurnian dari Allah dalam melaksanakan tugas pelayananannya (ay.12). Ia menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan di tengah-tengah “kesaksian hidup” para pengajar palsu yang terus meragukan kerasulan Paulus (4:2, John Drane. 1996. Memahami Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm 360-361.)

Dalam situasi yang demikian sulit, sebaiknya para hamba, orang percaya tidak gampang terpancing untuk bertindak terburu-buru apalagi mengatas namakan Tuhan. Sisi lain, “mencari celah”atas nama agama atau identitas dengan mencari keuntungan pribadi. Paulus memakai istilah “tidak berlalu licik” sebab lawan-lawannya sekian lama yang mengaku rasul dan melayani jemaat Korintus memakai cara-cara licik (bd.4:2). Tetapi setiap keadaan yang diperhadapkan kepada orang percaya yang mentaati firman Tuhan dengan penuh ketulusan, ia mengerti dan percaya Allah ada dan bertindak dalam kesulitan yang paling pelik sekalipun seperti di kemukakan oleh David Roper dalam bukunya “Seeing Through”,(1995:18), but God is never at loss. He provides eventuality. When things loot most dark and dangerous, when evil men and women have done their worst, then God can begin”. Tuhan justru baru memulai di waktu yang paling jelek dan tidak mungkin. Perhatikanlah, bukankankah Tuhan bertindak saat orang berkata sudah tamat ketika orang Isreal di tepi laut Teberau dan orang Mesir mengejarnya? Bukankah janda miskin dan anaknya di Sarfat akan mati sebab di rumahnya hanya ada segenggam tepung dan minyak beberapa tetes, lalu Elia datang dengan mujizat Tuhan? Ketika gereja sudah di ambang kehancuran, zaman sudah gelap itulah saat Tuhan bertindak melalui Martin Luther dengan gerakan reformasinya? Saat dunia menjertit dan putus asa Allah memulai bertindak dengan segala kuasanya malalui Saudara.

Karena itu, tetap jaga motif panggilan dengan benar, tampillah sebagai hamba, di manapun melayani, dalam situasi apapun dan model yang menawarkan “keuntungan” atas nama agama yang bagaimanapun. Tetap jaga teguh “Keteguhan Hati dan Tindakan sebagai Hamba Tuhan”. Diakhir tulisan ini, John Stott dalam bukunya “Mengapa Saya Seorang Kristen”, menulis, “Kekristenan tidak menawarkan jawaban yang dangkal atas pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan ini. Namun yang ditawarkan adalah bukti dari kasih Allah, yang adil dalam sejarah dan objektiv sebagai bukti yang sepertinya menyangkalnya, namanya adalah salib. Salib tidak menenangkan badai, namun itu memberi kita landasan kokoh untuk melihat dan menanggungnya” (2003, h:65). Selamat melayani dan hidup sebagai para hamba Tuhan dan milik-Nya. (ys)

Berita Lainnya

Meneguhkan Panggilan di Kesejukan Salatiga: Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV

Salatiga, 20 April 2026 – Suasana sejuk kota Salatiga menjadi saksi bisu kehangatan persekutuan para pelayan Tuhan dalam acara Fellowship Hamba Tuhan GIA Daerah IV. Bertempat di GIA Duren Salatiga, kegiatan yang berlangsung pada 20 April 2026 ini menjadi momentum penting bagi para gembala, pendeta, dan pendeta muda untuk sejenak menepi dari rutinitas pelayanan guna mengisi kembali cawan rohani mereka. Acara yang diselenggarakan oleh GIA Daerah IV ini terasa istimewa karena tidak hanya dihadiri oleh para pejabat gereja, tetapi juga didampingi oleh pasangan masing-masing. Kehadiran para pendamping ini menegaskan bahwa pelayanan bukan sekadar tugas individu, melainkan sinergi keluarga yang harmonis di dalam Tuhan. Puncak dari pertemuan ini adalah penyampaian Firman Tuhan yang dibawakan dengan penuh urapan oleh Pdt. Joko Kuncoro, Gembala Jemaat GIA Solo. Dalam pesannya, Pdt. Joko Kuncoro menekankan pentingnya setiap pelayan Tuhan untuk berpegang teguh pada panggilan pelayanan dengan tetap setia pada mandat Kristus di tengah tantangan zaman, sekaligus memiliki pengenalan akan Tuhan yang mendalam agar pelayanan tidak sekadar menjadi rutinitas teknis melainkan buah dari relasi pribadi yang intim dengan-Nya. Melalui fellowship ini, GIA Daerah IV berharap ikatan persaudaraan antar hamba Tuhan semakin erat. Pertukaran cerita, doa bersama, dan tawa yang pecah di sela-sela acara menjadi bukti bahwa dukungan komunitas adalah bahan bakar esensial bagi para pemimpin jemaat untuk terus melangkah. Pertemuan di GIA Duren ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat yang diperbarui, membawa api pengenalan akan Tuhan yang lebih menyala bagi jemaat yang mereka gembalakan. IMG_20260504_211444 IMG-20260420-WA0040 IMG_20260504_211544 IMG-20260420-WA0072 IMG_20260504_211528

Home Again: Langkah Pulang Menuju Hadirat-Nya

JAKARTA, 25 April 2026 – Kehangatan menyelimuti Gereja Isa Almasih (GIA) Jemaat Pegangsaan pada Sabtu, 25 April 2026 yang lalu. Sebanyak lebih dari 150 jemaat berkumpul dalam acara Praise & Worship Paskah PRBK GIA Daerah VII. Mengusung tema “Home Again”, acara ini menjadi momen refleksi sekaligus perayaan atas kasih Tuhan yang tak terbatas. Ada yang istimewa dalam persiapan pelayanan kali ini. Menanggalkan sekat antar-gereja, panitia mengimplementasikan semangat inklusivitas yang nyata. Para pelayan yang bertugas tidak hanya datang dari pengurus PRBK, melainkan gabungan jemaat dari berbagai gereja lokal di wilayah Daerah VII yang terpanggil untuk melayani bersama. Berikut terlampir nama-nama yang terlibat dalam pelayanan praise and worship tersebut: Tim Worship Leader : Pdt. Nehemia (GIA Jatinegara) Novenda (GIA Kelapa Gading) Jonathan (GIA Kelapa Gading) Chloe (GIA Taman Harapan Baru) Tim Pemain Musik : Nadya (GIA Galunggung yang sedang kuliah di Jakarta) Justine (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Ariel (GIA Pringgading yang bekerja di Jakarta) Yoas (GIA Pegangsaan) Kevin (GIA Pengangsaan) Model kolaborasi ini bukan sekadar teknis acara, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Dengan semangat saling mendukung, diharapkan hubungan antar-gereja lokal semakin erat dan membuka peluang kolaborasi positif di masa depan demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam ibadah yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, Pdt. Nehemia Sulistiyanto menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang menyentuh hati. Beliau menekankan bahwa Tuhan selalu membukakan pintu bagi anak-anak-Nya yang ingin “pulang” mencari Dia, selaras dengan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:20. Kebangkitan Kristus menjadi bukti nyata cinta-Nya bagi setiap kita, memberikan kekuatan bagi yang lemah untuk bangkit kembali. Suasana semakin syahdu saat jemaat menaikkan pujian dan penyembahan secara bebas, merasakan hadirat Tuhan yang memulihkan. Dalam kesempatan ini pula, dilakukan pengenalan mengenai RumahGIA kepada jemaat yang hadir. Keberhasilan acara ini tercermin dari antusiasme jemaat. Berbagai kesan mendalam tertuang, mulai dari perasaan sangat terberkati, hingga ungkapan personal seperti, “I feel how God welcome me back again.” Namun, berkat Tuhan tidak berhenti pada hari itu saja. Sebuah temuan menarik muncul respon jemaat yang menyatakan kerinduannya untuk terlibat melayani bersama pada event PRBK GIA Daerah VII selanjutnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak hanya ingin pulang ke “rumah”, tetapi juga ingin aktif merawat “rumah” tersebut melalui pelayanan. Mari kita doakan agar semangat “Home Again” ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, dan kolaborasi antar-jemaat di Daerah VII semakin berdampak luas. Soli Deo Gloria! IMG_9212 IMG_9205 IMG_0686 IMG_9716 IMG_9608 IMG_9595 IMG_9569

Kasih yang Tak Pernah Usai: Perpisahan dan Penyerahan Tongkat Estafet di GIA Anambas

Malang, 19 April 2026 – Suasana haru menyelimuti GIA Anambas pada Minggu siang, 19 April 2026. Tepat pukul 14.00 WIB, jemaat berkumpul bukan sekadar untuk beribadah rutin, melainkan untuk menjadi saksi sejarah atas sebuah transisi pelayanan yang sarat akan makna: Ibadah Emiritasi Pdt. Alpen Siagian, S.Th. dan Peneguhan Pdt. Sudirman, S.Th. sebagai Penjabat Gembala. Acara yang diselenggarakan oleh Daerah V ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting sinode, termasuk Ketua Umum MPH, Ketua Departemen K&P, serta perwakilan MD V, didampingi oleh jemaat dan majelis yang memenuhi ruangan dengan doa dan apresiasi. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Budi C. Hartono sebagai Ketua Umum Sinode GIA menyampaikan pesan firman Tuhan yang mendalam berdasarkan Yohanes 21:17-19. Beliau menekankan bahwa kasih adalah fondasi tunggal dan utama dalam pelayanan kepada Tuhan. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan senantiasa rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan tidak akan ada pernah kata berhenti atau selesai sebelum waktunya. Kasih yang akan menolong seseorang bukan saja mengawali dengan baik, tetapi juga akan mengakhiri dengan baik. Emeritus bukanlah akhir pelayanan, karena kasih akan memampukan seseorang tetap melayani apapun resikonya. Pesan ini menjadi penguat bagi Pdt. Alpen Siagian bahwa status Emeritus bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kasih akan terus memampukan seorang hamba Tuhan untuk tetap melayani dalam kapasitas yang berbeda, apapun resikonya. Puncak emosi dalam ibadah ini terjadi saat memasuki prosesi pelepasan. Setelah bertahun-tahun menggembalakan jemaat dengan hati, Pdt. Em. Alpen Siagian, S.Th. secara resmi diantarkan menuju rumah emiritusnya di daerah Wagir. Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh tangis haru. Isak tangis tak terbendung pecah dari para anggota majelis, jemaat, hingga keluarga besar Pdt. Em. Alpen Siagian. Air mata tersebut menjadi bukti nyata betapa dalamnya jejak pelayanan dan kasih yang telah beliau tanamkan di hati jemaat GIA Anambas. Seiring dengan pelepasan tersebut, tanggung jawab penggembalaan kini berpindah kepada Pdt. Sudirman, S.Th. yang diteguhkan sebagai Penjabat Gembala. Dengan semangat yang baru namun tetap berpijak pada dasar kasih yang sama, estafet pelayanan di GIA Anambas dipastikan akan terus berlanjut. Ibadah ini menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kepemimpinan boleh berganti dan raga mungkin berpindah tempat, namun pelayanan yang didasari kasih kepada Kristus akan tetap kekal selamanya. DSCF9500 DSCF9341 DSCF9337 (1) DSCF9261 DSCF9195 DSCF9173 DSCF9072 DSCF9017 DSCF1460 DSCF1460

Cahaya Paskah dan Komitmen Baru di GIA Kediri

Kediri, 5 April 2026 – Suasana subuh di GIA Kediri pada Minggu, 5 April 2026, terasa begitu khidmat dan penuh harapan. Di saat fajar mulai menyingsing, jemaat telah berkumpul untuk merayakan Ibadah Paskah Subuh, sebuah momen refleksi atas kemenangan iman yang kemudian dirangkaikan dengan peristiwa penting bagi organisasi gereja: Pelantikan Majelis Baru masa bakti 2026-2030. Ibadah yang diselenggarakan oleh GIA Kediri ini dihadiri oleh Gembala Jemaat, seluruh jemaat yang antusias, serta para anggota Diaken yang bersiap mengemban tanggung jawab baru. Dalam khotbahnya, Pdt. David Sudarko membawa pesan yang kuat dan relevan bagi para pelayan Tuhan yang baru saja akan memulai masa baktinya. Beliau menekankan bahwa kemenangan Paskah harus dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. “Setiap orang, terlebih lagi mereka yang terpilih menjadi pemimpin, sangat penting untuk memperoleh hikmat Allah, jangan hanya mengandalkan kepandaian manusia, tetapi carilah dan mintalah hikmat Ilahi itu agar pelayanan dapat berjalan sesuai kehendak-Nya”. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gereja bukan sekadar soal organisasi, melainkan tentang bagaimana menjalankan visi Tuhan dengan tuntunan hikmat yang datang dari atas. Setelah perenungan firman Tuhan, suasana beralih menjadi momen yang formal namun sakral, yaitu pelantikan Majelis Baru untuk periode empat tahun ke depan (2026-2030). Adapun susunan Majelis GIA Kediri periode 2026-2030 yang dilantik adalah sebagai berikut: Pdt. Yahya Suwarno (Gembala jemaat/ ketua majelis). Yunita Elizabeth (Sekertaris). Eddy Prayitno (Bendahara). Ferry Hermawan Winoto (Diaken Bidang PAJ). Wijono (Diaken bidang pelayanan gerejawi). Edy Poerwanto (Diaken bidang Holistic Ministry). Imam Ismulyono (Diaken bidang misi dan RTG). Prosesi pelantikan ini disaksikan langsung oleh seluruh jemaat dengan penuh sukacita. Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran majelis memberikan energi positif dan harapan akan pertumbuhan iman yang lebih dalam di lingkungan gereja. Rangkaian kegiatan Paskah Subuh dan Pelantikan Majelis ini ditutup dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan bagi para pemimpin baru agar mereka senantiasa rendah hati dalam mencari hikmat-Nya. Fajar Paskah di GIA Kediri hari itu tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan semangat pelayanan yang baru. _MG_3504 (1) _MG_3446 _MG_3373 MSA00559 MSA00531 MSA00452 MSA00272 MSA00148 MSA00067 _MG_3322 Load More End of Content.

Categories
Seputar Sinode

HUT GIA Puri Anjasmoro ke-22

HUT GIA Puri Anjasmoro
ke-22 Tahun

Semarang, TheHope.id – Pada hari Minggu, 3 Juli 2022 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun GIA Puri Anjasmoro ke-22 (dulu Sub Wil. GIA Jemaat dr. Cipto, Semarang) dilangsungkan Ibadah Khusus HUT dan pelantikan Majelis Periode Perpanjangan 2022-2024.

Pelantikan dilaksanakan oleh Gembala Jemaat, Pdt. Daniel Dwi Sumantoro. Adapun Para Diaken yang dilantik adalah Anita Melania (Bendahara 1), Sri Handini (Bendahara 2), Iwan Sutanto (Sekretaris), Supanto (Majelis Bidang III-Ibadah), Ruddy Wijaya (Maj.Bid I-Penggembalaan), Elita Christiana (Maj.Bid. II-PAJ) (-dy)

Berita lainnya

Categories
Seputar Sinode

Pentahbisan Pdm dan Pdt GIA dr. Cipto, Semarang

Pentahbisan Pdm dan Pdt
GIA dr. Cipto, Semarang

Semarang, TheHope.id – Pada hari Jumat, 1 Juli 2022 di GIA Jemaat dr. Cipto, Semarang dilaksanakan pentahbisan Sdr. Eliezer Sutikno, Sdr. Daud Sugiyarno, Sdr. Bezaliel Sugianto, Sdr. Filipus Siswodiharjo sebagai Pendeta Muda. Dalam kesempatan yang sama ditahbiskan pula Pdm. Hendy Agus Wibowo menjadi Pendeta (Pdt.).

Pelayan Pentahbis ialah Pdt. Jairus Hasugian dan Pdt. Daniel D. Sumantoro. Para hamba Tuhan dari Daerah II Sinode GIA juga ikut mendukung dalam doa dan menghadiri ibadah kudus tersebut. (-dy)

Berita lainnya

Categories
Seputar Sinode

Pendewasaan TPI Selorejo

Ibadah Khusus Pendewasaan
TPI Selorejo

Semarang, TheHope.id – Ibadah Khusus pendewasaan TPI Selorejo menjadi jemaat dewasa pada hari Jumat, 24 Juni 2022. TPI Selorejo sebelumnya di bawah naungan GIA Jemaat dr. Cipto Semarang. Pelayan Pentahbis ialah: Pdt. Jairus Hasugian dan Pdt. Budi Cahyono Hartono. (-dy)

Berita lainnya

Categories
Seputar Sinode

Pentahbisan Gembala Jemaat GIA Manyaran, Semarang

Pentahbisan Gembala Jemaat
GIA Manyaran, Semarang

Semarang, TheHope.id – Pdt. Andreas Kusmanto ditahbiskan menjadi Gembala Jemaat GIA Manyaran menggantikan Pdt. Martinus Duryadi, pada hari Rabu, 27 April 2022. MPH yang mentahbis: Pdt. Goenawan Susanto (Ketum), Pdt. Daniel D. Sumantoro (Ketua Departemen PIK) dan Bpk. FX. Rudiyanto (Bendahara 2) dengan dihadiri oleh para pendeta Daerah 1 Sinode GIA. (-ds)

Berita lainnya

Categories
Motivasi

Saat Ku Buta

http://en.wikipedia.org/wiki/Braille
Dunia orang buta dibatasi oleh jangkauan sentuhannya, dunia orang bebal dibatasi oleh jangkauan pengetahuannya, dunia orang besar dibatasi oleh jangkauan visinya.
E. Paul Hovey

Saat Ku Buta

Oleh Yotam Sugihyono
(Diambil dari Warrior of Life)

Sebuah kecelakaan membuatnya buta total untuk selamanya. Saat berusia 3 tahun secara tidak sengaja ia menikam matanya sendiri dengan alat pembuat lubang sepatu milik ayahnya.

Kejadian yang lebih tragis kembali terjadi saat matanya yang satu terkena sympathetic ophthalmia, sejenis infeksi yang terjadi karena kerusakan mata satunya.

Anak yang malang ini bernama Louis Braille. Ia dilahirkan 4 Januari 1809 di Coupvray, sebuah kota kecil di dekat Paris, Perancis. Ketika ia mengalami dunia yang gelap, ia tidak meratapi nasibnya walaupun ia bisa saja melakukannya karena ia memiliki seribu satu alasan untuk dikasihani. Di usianya yang masih belia, saat berumur 10 tahun ia memperoleh bea siswa untuk belajar pada Royal Institution for Blind Youth di Paris, sebuah lembaga pendidikan khusus untuk anak-anak tunanetra. Namun saat berada di sana ia mengalami kesulitan dalam membaca buku karena sejumlah tanda timbul pada buku tersebut memiliki ukuran huruf yang besar, sehingga bukunya pun terbilang besar dan harganya sangat mahal. Sementara itu, sekolahnya hanya memiliki empat belas buku seperti ini. Walaupun demikian, ia tetap berhasil dalam semua pelajarannya.

Louis Braille merasakan kesulitan dalam membaca buku-buku tersebut karena ia membutuhkan beberapa detik untuk membaca setiap satu huruf dan sering lupa akan huruf pada awal kalimat sebelumnya. Maka ia berpikir untuk dapat membuat huruf timbul yang lebih mudah dipahami oleh orang buta sepertinya.

Tahun 1821, saat Louis Braille berusia dua belas tahun, seorang kapten angkatan bersenjata Prancis, Charles Barbier berkunjung ke sekolahnya. Barbier menunjukkan penemuannya yang dinamakan night writing (tulisan malam), yang mengembangkan kode-kode timbul sebagai sandi untuk dibaca dalam kegelapan bagi prajuritnya. Dari sanalah Louise Braille mendapatkan ide untuk mengembangkan sistem huruf yang lebih sederhana.

Hanya dalam waktu tiga tahun saja, akhirnya ia berhasil membangun satu sistem ideal yang sekarang dinamakan huruf Braille dan kala itu ia baru berusia lima belas tahun! Huruf ini menggunakan satu sel yang terdiri dari 6 titik dan didasarkan pada ejaan normal. Pada tahun 1829 saat ia berusia dua puluh tahun, ia menerbitkan buku Braille pertamanya. Tak puas hanya sampai disitu, ia pun kemudian membuat simbol-simbol lain yang digunakan untuk mempermudah mempelajari matematika dan musik.

Namun penemuannya yang sangat brillian itu tidak serta merta dapat diterima di masyarakat. Setelah kepala sekolah yang sebelumnya dipimpin oleh DR. Pignier dan mengupayakan dukungan untuk Louis diganti oleh DR. Dufau, maka sekolah melarang penggunaan alfabet ciptaan Louis dan menghukum murid yang tertangkap menggunakan huruf ciptaannya. Penolakan terhadap ide brillian ini tidak hanya berhenti sampai di situ, mereka bahkan juga membakar semua buku-buku yang sempat ditulis oleh Louis yang telah memenuhi perpustakaan sekolahnya.

Seorang guru lain bernama DR. Joseph Gaudet melihat dengan obyektif bahwa ternyata sistem tulisan yang diajarkan oleh Louis sangat membantu para murid tuna netra dibandingkan dengan tulisan sebelumnya yang mereka ajarkan. Setelah melalui diplomasi yang sangat baik, DR. Joseph Gaudet berhasil meyakinkan Dufau untuk menjadi orang pertama yang memberlakukan sistem alfabeth baru ciptaan Louis di sekolah mereka.

Karena kepentingan untuk dikenal inilah akhirnya pada tahun 1844 Dufau yang sebelumnya melarang kini mendemonstrasikan penggunaan alfabeth ciptaan Louis. Louis yang berusia 35 tahun waktu itu begitu gembira mendengarnya karena ciptaannya dapat membantu begitu banyak orang cacat seperti dirinya.

Saat ia berusia 43 tahun, Louis yang masih relatif muda dan telah mencelikkan mata orang-orang buta menderita penyakit TBC yang kemudian membuatnya meninggal dunia. Penemuannya membuat orang buta tetap dapat “melihat” dengan rabaan jari-jarinya. Penemuannya justru didapatkan ketika ia mengalami kebutaan total. Ada banyak hal yang membuat kita tetap dapat berprestasi dan melakukan sesuatu bahkan saat kita mengalami kemalangan sekalipun. Asal mau menerima kelemahan fisik dan membuat kekurangan menjadi kelebihan yang dapat kita munculkan, maka kita akan menjadi orang yang unggul melebihi orang lain.
Baca juga artikel lainnya
Categories
Lagi Viral

Viral bulan ini

Sumber gambar: suara.com
Seandanya nama jalan yang ada di Pekan Raya Jakarta 2022 itu, menjadi nyata di masyarakat kita. Hmm…kita bisa akrap dan tersenyum tiap hari. Rukun yaaa…